JAKARTA | DANews.id — Gedung Kesenian Jakarta menjadi ruang perjumpaan beragam ekspresi seni tradisi sepanjang hari hingga malam saat pelaksanaan Festival Bedhayan ke-6 Tahun 2026 pada 8 Agustus 2026. Festival ini mengusung tema “Memayu Hayuning Bawana”, sebuah falsafah Jawa yang bermakna menjaga keharmonisan dan keseimbangan dunia. Sedikitnya 16 pertunjukan tampil dalam acara tersebut.
Pembukaan festival diawali dengan pemanggilan sejumlah tokoh Nusantara yang peduli terhadap pelestarian dan pengembangan kebudayaan. Salah satu tokoh yang hadir adalah Rico Tri Putra Bayu Waas, Wali Kota Medan, yang juga memberikan perhatian besar terhadap keberlangsungan kebudayaan sebagai bagian penting dari identitas masyarakat.
Sebagian besar pertunjukan dalam festival tersebut menampilkan corak filosofis Jawa yang kuat. Gerak tari, seni suara, dan musik membangun suasana yang memperlihatkan kelembutan kosmologi Jawa. Namun, di antara rangkaian penampilan itu, satu karya dari Medan justru mencuri perhatian dan menghadirkan pengalaman artistik yang berbeda.
Karya itu berjudul “Dayang Nan Tujuh”, dibawakan oleh sanggar binaan Bidang Kebudayaan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Medan. Pertunjukan ini seketika membuat suasana Gedung Kesenian Jakarta menjadi hening. Setelah pertunjukan selesai, keheningan itu berubah menjadi tepuk tangan panjang yang bergemuruh.
Membawa Kosmologi Melayu Deli ke Panggung
“Dayang Nan Tujuh” bukan sekadar pertunjukan tari. Karya ini merupakan perwujudan kearifan lokal Melayu Kota Medan yang menempatkan kebudayaan Melayu sebagai salah satu akar penting sejarah dan identitas kota tersebut.
Dalam pertunjukan ini, konsep Dayang Nan Tujuh dihadirkan dalam ruang ritus dan sakralitas kemelayuan. Tujuh anak dara tampil sebagai sosok dayang yang merepresentasikan petala langit dalam pemahaman Melayu klasik sekaligus penjuru bumi dalam anasir kosmologi Melayu klasik.
Selain itu, dalam kepercayaan tradisional, ketujuh dayang tersebut dikisahkan akan dilengkapi menjadi delapan dengan kehadiran unsur dari alam halus. Konsep ini menjadi simbol hubungan serta keseimbangan antara manusia, alam, dan jagat kosmologi yang diyakini dalam tradisi Melayu.
Nuansa sakral semakin terasa melalui penggunaan properti ritual seperti sirih dan setanggi. Para penari tampil sebagai anak dara Melayu mengenakan kebaya labuh dan sanggul Melayu. Penampilan ini tidak hanya memperkuat visual yang kuat, tetapi juga menghidupkan kembali citra perempuan Melayu dalam ruang tradisi.
Selanjutnya, pertunjukan semakin kokoh didukung sinandong dedeng Deli yang disusun dalam tujuh bait. Musik pengiring mengikuti gaya sinandong lama dengan kekayaan instrumen tradisional Melayu, antara lain gendang dua muka, pakpung, dol, ketipung, canang, serunai, bangsi, arbab, hingga gong.
Perpaduan gerak, suara, musik, properti, busana, dan suasana ritus menjadikan “Dayang Nan Tujuh” bukan sekadar tontonan. Sebaliknya, karya ini mengajak penonton melakukan perjalanan imajinatif menuju ruang kebudayaan Melayu Deli yang lebih tua dan dalam.
Ketika Tari Melayu Menjadi Ruang Sakral
Pertunjukan ini dipimpin oleh M. Muhar Omtatok yang juga bertindak sebagai narasumber dan penulis sinandong. Tata tari dipercayakan kepada Mateus Suwarsono, sedangkan tata musik digarap Zumaidi Abdullah. Sementara itu, Bidang Kebudayaan pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Medan memberikan dukungan penuh sejak tahap persiapan hingga pelaksanaan pertunjukan.
Penonton dan para pelaku seni memberikan respons yang luar biasa. Setelah acara selesai, sejumlah pakar tari dan seni pertunjukan berkumpul untuk membahas “Dayang Nan Tujuh”. Mereka mengakui menemukan sesuatu yang jarang tampil dalam pertunjukan Melayu kontemporer, yaitu dimensi sakral yang utuh dan meyakinkan.
Selama ini, penonton dan pemerhati seni lebih sering melihat tari Melayu dalam bentuk pertunjukan yang bersifat hiburan. Berbeda dengan itu, “Dayang Nan Tujuh” justru membuka kemungkinan lain: menghadirkan tari Melayu sebagai sarana untuk membaca kembali hubungan manusia, alam, leluhur, dan ruang kosmologis.
Salah satu respons yang sangat emosional datang dari Elly D. Luthan, koreografer senior yang hadir menyaksikan pertunjukan tersebut. Dengan suara bergetar dan air mata yang tak tertahan, Elly menyampaikan kekagumannya.
“Saya menemukan sakralitas tari Melayu yang benar-benar matang dalam Dayang Nan Tujuh. Saat sinandong itu, saya tidak bisa menahan tangis. Saya dibawa ke alam Deli beberapa abad lalu. Saya kagum atas pertunjukan ini.”
Pernyataan itu menegaskan bahwa kekuatan “Dayang Nan Tujuh” tidak hanya terletak pada keindahan koreografi atau kemerduan musiknya. Lebih dari itu, pertunjukan ini berhasil menghadirkan atmosfer kebudayaan yang membuat penonton seolah bukan sedang menyaksikan tari, melainkan memasuki kembali ruang ingatan kolektif masyarakat Melayu Kota Medan.
Dari Medan untuk Nusantara
Kehadiran “Dayang Nan Tujuh” dalam Festival Bedhayan VI memiliki makna penting. Pertunjukan ini tidak hanya memukau penonton Jakarta, tetapi juga memperlihatkan bagaimana tradisi lokal dapat berdialog dengan tradisi Nusantara lainnya tanpa kehilangan akar identitasnya.
Di tengah festival yang didominasi corak kosmologi Jawa, karya dari Medan ini hadir membawa kosmologi Melayu Deli dengan bahasa artistik yang khas. Di sinilah letak nilai pentingnya: karya ini tidak mempertentangkan satu tradisi dengan tradisi lain, melainkan menunjukkan bahwa Nusantara dibangun dari banyak pengetahuan lokal yang masing-masing memiliki cara memandang hubungan manusia dengan alam dan semesta.
Oleh karena itu, “Dayang Nan Tujuh” bukan sekadar pertunjukan yang dikirim dari Medan. Karya ini menjadi pernyataan kebudayaan bahwa tradisi Melayu Medan tetap memiliki suara yang kuat di panggung nasional — dengan bahasa yang tua, sakral, lembut, dan tetap relevan.
Pada hari itu, di Gedung Kesenian Jakarta, tepuk tangan yang bergemuruh seolah menjadi jawaban: ketika sebuah tradisi dipahami dari akarnya yang paling dalam, ia tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga mampu menyentuh hati penonton lintas zaman dan kebudayaan.














