TAPANULI UTARA | DANews.id – Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Lamhot Sinaga menilai penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) di Kabupaten Tapanuli Utara masih rendah. Hingga 2026, penyaluran KUR baru mencapai Rp327,65 miliar kepada 5.341 debitur, dengan KUR Mikro mendominasi sebesar Rp239,79 miliar.
Lamhot menyebut angka tersebut belum sebanding dengan potensi usaha masyarakat maupun alokasi KUR nasional. Pemerintah sendiri menyiapkan KUR sebesar Rp200 triliun pada 2026 untuk menggerakkan ekonomi rakyat.
“Mengenai KUR ini kita sangat serius karena kita ingin menggerakkan ekonomi rakyat. Tahun 2026 ini KUR itu Rp200 triliun, sementara yang tersalurkan di Tapanuli Utara menurut dinas yang membidangi tadi hanya sekitar Rp330 miliar. Menurut saya, jumlah ini masih sangat kecil,” ujar Lamhot saat Komisi VII DPR RI melakukan fungsi pengawasan terhadap pelaksanaan KUR di Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara, Kamis (3/9/2026).
Karena itu, Lamhot mendorong pemerintah daerah meningkatkan sosialisasi dan pendampingan, terutama bagi pelaku usaha yang berpotensi mengakses KUR. Langkah tersebut dapat melibatkan dinas terkait hingga perangkat pemerintahan di tingkat desa.
“Perlu adanya pendampingan intens dan juga sosialisasi dari pemerintah. Di sini mungkin bisa dilakukan oleh dinas atau perangkat lainnya. Tadi juga sudah diminta untuk bekerja sama dengan kepala desa hingga masyarakat merasakan kemudahan dalam mengakses KUR,” jelasnya.
Selain memperluas akses, Lamhot menilai peningkatan penyaluran KUR dapat mendorong pertumbuhan UMKM dan ekonomi masyarakat. Dampaknya, pendapatan daerah juga berpotensi meningkat.
“Dengan kemudahan mengakses KUR, jumlahnya pasti akan naik. Dengan jumlahnya naik, berarti ekonomi masyarakat di tingkat bawah ataupun UMKM juga akan naik. Efek dominonya, pendapatan daerah juga akan meningkat. Itu yang mau kita tumbuhkan dan kembangkan,” tegas Lamhot.
Menurutnya, pemanfaatan KUR juga tidak perlu terfokus pada sektor pertanian. Program tersebut bersifat multisektor sehingga dapat mendukung berbagai potensi ekonomi Tapanuli Utara, mulai dari tenun, kuliner hingga pariwisata.
“KUR ini multisektor. Tidak hanya pertanian, tetapi juga UMKM, tenun sebagai bagian dari ekonomi kreatif, kuliner, hingga pariwisata. Saat ini Tapanuli Utara memang mayoritas pertanian, tetapi ke depan kita dorong agar sektor-sektor lainnya juga ikut bergerak,” pungkas Lamhot.








