KARO, SUMUT | DANews.id — Kondisi Febiola Br Purba, siswi asal Kabupaten Karo, Sumatera Utara, berubah drastis setelah mengalami sakit dan demam. Kini, Febiola disebut mengalami gangguan ingatan hingga tidak lagi mengenali anggota keluarganya sendiri.
Keluarga menduga kondisi tersebut berkaitan dengan dugaan keracunan setelah Febiola mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun, dugaan tersebut masih membutuhkan pembuktian melalui pemeriksaan medis dan keterangan resmi dari pihak berwenang.
Ibunda Febiola mengatakan perubahan kondisi anaknya sangat terasa. Selain mengalami gangguan ingatan, Febiola juga mengalami kesulitan berbicara dan gangguan pada lidah.
“Lidahnya makin ditarik ke dalam,” ujar Ibu Febiola, Senin (8/9/2026).
Kondisi itu membuat keluarga terus mencari penanganan medis. Sejak Agustus 2026, keluarga mengaku telah membawa Febiola ke lima rumah sakit.
Dalam proses perawatan, keluarga mendapat informasi dari dokter mengenai dugaan adanya racun. Sang ibu menyebut dokter menyampaikan dugaan racun jamur.
“Iya, iya. Cuman abang beli yang ikut. Tapi cerita dia, dibilangnya, kata dokternya, ada racun jamur. Ada racun jamur.”
Namun, perubahan daya ingat Febiola menjadi persoalan paling berat yang kini dihadapi keluarga. Sang ibu mengatakan anaknya sudah tidak mengingat banyak hal.
“Gak ingat. Apa-apa.”
Bahkan, Febiola tidak lagi mengenali hubungan dengan orang-orang terdekatnya. Ia disebut tidak mengetahui siapa adik maupun kakaknya ketika bertemu.
“Namanya, jumpa dia gitu sama adiknya aja, adiknya kakaknya gitu. Gak ingat dia. Gak tau dia itu adik, itu kakaknya gitu.”
Karena itu, keluarga harus berulang kali menjelaskan identitas orang-orang di sekitarnya. Sang ibu menggambarkan kondisi Febiola seperti kembali belajar mengenali lingkungan dari awal.
“Tapi sesudah dibilang selalu, ini adik, ini kakak, gitu. Jadi, kayak kembali seperti baru lagi dia, kayak anak-anak sekarang.”
Kondisi tersebut sangat berbeda dengan keadaan Febiola sebelum sakit. Menurut ibunya, Febiola merupakan anak yang sehat dan berprestasi di sekolah. Ia bahkan konsisten meraih juara pertama sejak semester awal.
“Iya, juara satu.”
“Mulai dari semester pertama, dari awal juara satu. Makanya, dia minta sekolah selalu.”
Kini, keluarga harus menghadapi beban pengobatan sekaligus persoalan ekonomi. Orang tua Febiola disebut berhenti bekerja untuk fokus merawat anaknya, sementara biaya pengobatan terus menumpuk.
Keluarga berharap pemerintah segera memberikan perhatian dan bantuan agar Febiola bisa mendapatkan penanganan medis secara berkelanjutan.
Di sisi lain, dugaan keterkaitan kondisi Febiola dengan MBG perlu mendapat penjelasan berdasarkan pemeriksaan medis dan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan. Kepastian mengenai penyebab sakit menjadi penting agar Febiola memperoleh penanganan yang tepat dan keluarga mendapatkan kejelasan.
Bagi keluarga, harapan terbesar saat ini adalah Febiola bisa kembali pulih, mengenali keluarganya, dan melanjutkan sekolah seperti sebelum mengalami sakit.








